Minggu, 05 April 2009

hidup

Penjual ketan,pasar jangkang@ 16 Feb 2009 | 04:46:

Pasar Jangkang - Ngemplak, Sleman

Pagi – pagi, istriku minta tolong “ Mas, beli beras ketan ke pasar belakang bentar yaahJ, nanti ada sore ada pesenan suruh buatkan lemper sama tapai ketan dari ibu aminah.”

Berhubung aku sendiri ga tahu tempat jualannya, istriku kemudian member petunjuk utawa peta ke lokasi,maksudnya lokasi penjual ketan,hehehe…dengan agak paham sedikit, kemudian berangkatlah dengan si keong, Vespa kesayangan peninggalan bapak.

Sampai pasar, la kok ramai banget ga seperti biasanya. Pikirku,bakal kebingungan ini kayaknya.

Laa,ko aku ingat kalo sekarang itu wage. Di jawa biasanya pasar tradisional akan lebih ramai waktu hari pasaran, wage, atau legi. Makanya kalo pernah denger istilah pasar wage, pasar kliwon atao pasar legi itu ya karena adat orang jawa saja.
intermezzo......pernah membayangkan kalo misalnya ada Carrefour wage, makro kliwon, atau GTM Pon??lak yoo lucu tenan tho…hehehehehe..

agak mutar – mutar carinya, akhirnya ketemu juga yang jualan, yang mungkin di maksud istriku. Cuma kecil aja tempat jualannya, hanya beralaskan tikar, tanpa meja atopun kursi. Penjualnya sudah sangat tua, kakek dan nenek. Yaaah, kalo ku taksir umurnya, mungkin sudah sekitar 70an tahun. Sepertinya mereka suami istri. Aku jadi teringat simbahku, harusnya mereka berdua tidak berada di sini sekarang, membanting tulag mencari sesuap nasi, saat senja yang harus di gunakan untuk menikmati hidup, bagi mereka mungkin itu hanya cerita saja.

Aku ingat pesan istriku, nanti beras ketannya ga usah dibawa sekalian, agak senang juga pikirku. Bayangkan kalo harus pulang mengangkat beras ketan yang satu karung….bisa-bisa pinggangku kumat lagi;

Bilang istriku, biar nanti kuli panggul pasar saja yang angkat.trus kepikiran, ternyata istriku ki juga sayang padaku:-))mereka dikasih rokok sebungkus juga sudah seneng betul, bisa kipas-kipasJ pas lah sudah.
ketika ku dekati simbah penjual ketan tadi, la kok ternyata di dahului oleh orang lain. Yaaa dengan terpaksa, ngalah. Menunggu mereka selesai bertransaksi. Setelah mereka selesai, giliranku tiba. Kukatakan pada simbah berdua, kalo aku di suruh istriku untuk beli ketan, eeeee….la kok simbah tadi malah ngomong “ oooaaalaaaaahh…..mas ini suaminya dek sri tho? Ya udah mas, bayar saja segini.” Akupun heran, kok datang – datang langsung di kasih diskon. Terus pembeli sebelum aku tadi melihatnya, kemudian ngomong sama simbah” mbah, la kok mas ini di kasih murah??”simbah pun menjawab dengan bijak,” sudah, ga papa, saya hanya mengambil untung sedikit. Istrinya sudah langganan saya sejak lama, ga papa” pikirku, “emang gue pikirin, protes aja kaya politisi…rejeki emang ga kemana
J”hehehe...
habis bayar, langsung aku tinggalkan tempat jualan simbah tadi, tiba- tiba simbah teriak, dengan langkah yang tertatih- tatih, karena sudah tua, pelan- pelan simbah berjalan. Simbah tadi berjalan pelan –pelan
menghampiri seorang yang juga sudah tua. Kemudian di peluk dan di tuntun “ kamu ini mau kemana, sudah ga usah jalan-jalan, di kiosku saja”kemudian di tuntunnya ke kios simbah tadi.;

Tau ga bro…
yang di tuntun itu orang tua, sudah jelek betul karena teramat pikunnya, dan…mohon maaf ni yaa, tidak bisa melihat...
kemudian yang menuntunnya itu, simbah penjual ketan tadi, juga sudah tua. Agak rabun lagi. Tadi ku bayar aja, bertanya, uangnya ini ribuan apa puluhan ribu. Jalannya juga sudah tertatih-tatih.

Ternyata bro…di pasar yang terpenci di kaki gunung merapi ini, pagi itu aku diaajari tentang kehidupan. Ternyata di jaman ini masih ada orang yang susah, tapi masih punya niat agung mau menolong orang lain yang juga sama-sama susah. Tidak kebanyakan mulut, ngomong sana, ngomong sini, tetapi langsung bertindak.

Bandingkan dengan caleg- caleg sekarang yang fotonya pada senyum-senyum di pinggir jalan itu, “Memalukan”…aduuuhhh to lee..sampeyan iki pancen ra ngerti isin tenan.

“mas pengangkring AB 5588 YU, sori yooo aku sadur tulisane panjenengan. Namung kersane dados pelajaran hidup kangge rencang2 sedoyo, nuwun njih”

Tidak ada komentar: